Kembali

Profil Ayat

Nama Surat : Al-Furqan
Nomor Ayat : 48
Nomor Surat : 25
Tema :
Agroklimatologi Air Bumi Hujan Matahari
Jumlah Pengunjung : 170

Detail Ayat

Ayat
﴿ وَهُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۚ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً طَهُوْرًا ۙ ٤٨ ﴾
Terjemahan Kemenag 2019

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Kami turunkan dari langit air yang sangat suci.

Tafsir Sains

Sejatinya, Allah telah menciptakan air hujan dalam keadaan bersih untuk berbagai keperluan makhluk dan menyuburkan tanah yang tandus.

Proses penguapan air di alam dan kondensasi uap menjadi hujan pada dasarnya adalah proses pemurnian air, seperti halnya proses destilasi air di laboratorium. Uap adalah molekul-molekul air yang berubah fasa menjadi gas. Ketika menguap itulah molekul air terbang mening galkan bahan-bahan terlarutnya.

 

Meskipun di antara bahan terlarut tersebut terdapat gas (misalnya CO2, NOx atau metan) atau zat yang juga dapat berubah fasa menjadi gas (misalnya khlor), penguapan akan memisahkan air dari pengotornya. Oleh karena itu air hujan pada dasarnya adalah air murni.

Siklus air di bumi memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah pemurnian air dari berbagai plankton dan kotoran. Saat hujan turun dan mengalir di permukaan bumi, air tersebut membawa sejumlah besar limbah ke laut dan cekungan samudera, menjalani proses pembersihan alami. Dalam alirannya, air juga melarutkan berbagai unsur dan senyawa dari endapan di bumi, termasuk jutaan ton plankton yang tidak larut. Plankton ini tersimpan di aliran sungai, lembah, dasar laut, danau, serta akumulasi lainnya. Di lingkungan perairan tersebut, miliaran organisme hidup dan mati, di mana pembusukan dapat terjadi cepat, terutama di perairan terbatas. Kondisi ini diperparah oleh pencemaran akibat limbah pabrik dan rumah tangga yang dibuang ke air.

 

Ketika sinar matahari menguapkan air, proses pemurnian terjadi. Uap air yang naik ke atmosfer gas bumi bersih dari polutan, kotoran, dan garam. Ini adalah proses utama pemurnian air bumi, sehingga air hujan menjadi bentuk air paling murni di alam. Meskipun demikian, air hujan dapat melarutkan sebagian kecil komponen gas atmosfer dan membawa persentase kecil garam, yang penting bagi kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Air yang benar-benar murni bahkan bisa berbahaya bagi tubuh manusia.

 

Namun, air di atmosfer dapat tercemar oleh polutan yang dihasilkan manusia, seperti oksida belerang yang menyebabkan hujan asam, atau debu radioaktif dari uji coba nuklir. Sebagai contoh, kebocoran dari reaktor nuklir Chernobyl pada April 1986 menyebabkan hujan radioaktif di seluruh Eropa dan Timur Tengah, berdampak pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Insiden serupa terjadi di reaktor Three Mile Island dan Skotlandia Utara.

 

Garam yang terkandung dalam siklus air terakumulasi dari penguapan dan kondensasi air selama jutaan tahun. Proses ini terus berlangsung, menyebabkan peningkatan salinitas di perairan asin bumi seiring waktu. Meski demikian, air tidak rusak oleh akumulasi garam atau limbah, berkat siklus alami yang terus memurnikannya.

 

Air hujan tetap menjadi sumber utama air murni di bumi. Bahkan air tanah, meskipun tersimpan di bawah permukaan, salinitasnya meningkat seiring waktu karena larutan garam batu atau penguapan. Manisnya air tanah serta kandungan oksigennya hanya dapat diperbarui oleh air hujan. Al-Qur'an menggambarkan hakikat pemurnian air ini dalam berbagai ayatnya, meskipun pada saat itu manusia belum menyadari fakta-fakta ilmiah tersebut. Pemahaman tentang siklus air baru dicapai pada akhir abad kedua puluh, membuktikan kebenaran Al-Qur'an yang diturunkan lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu.

 

Dengan demikian, Al-Qur'an memberikan penjelasan ilmiah yang sangat akurat tentang siklus air di bumi. Siklus ini memastikan bahwa air, sebagai sumber kehidupan, terus dimurnikan melalui penguapan dan kondensasi, sesuai dengan kehendak Allah. Fakta-fakta ini baru dapat dibuktikan oleh ilmu pengetahuan dalam beberapa abad terakhir, dan kebenarannya semakin terungkap di era modern ini.

Referensi
Tim Penyusun, Air Dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag RI, 2010), 59.

Referensi Lengkap
Zaghlūl al-Najjār, Tafsīr al-Āyāt al-Kawniyyah fī al-Qur’ān al-Karīm, (Kairo: Maktabatu al-Syurūq al-Dauliyyah, 2007), 336-338.

Referensi Lengkap